Assassin’s Creed: Unity (novel teaser – Indonesian translation)

“Aku telah dihabisi, ditipu, dan dikhianati.

Mereka membunuh ayahku—dan aku akan membalaskan dendam ini,

apa pun risikonya!”

cover unity

1789: kota Paris yang megah menyaksikan terbitnya Revolusi Prancis. Jalanan berkerikil berubah menjadi sungai darah ketika rakyat bangkit menentang golongan bangsawan yang menindas mereka. Tapi keadilan revolusi harus dibayar dengan sangat mahal…

Pada masa jurang antara si kaya dan si miskin mencapai jarak terjauh, dan sebuah negara menghancurkan dirinya sendiri, seorang pemuda dan seorang gadis berjuang untuk membalaskan apa saja yang telah direnggut dari mereka.

Segera Arno dan Élise terseret ke dalam pertarungan antara Assassin dan Templar yang sudah berlangsung ratusan tahun—sebuah dunia penuh dengan bahaya yang lebih mematikan daripada jangkauan imajinasi mereka.

Novel adaptasi video game Assassin’s Creed: Unity sudah terbit dan beredar di toko-toko buku di Indonesia (saya beli di Books & Beyond, tapi biasanya ada juga di Periplus, Kinokuniya, dan Gramedia). Sama dengan novel-novel sebelumnya, novel adaptasi Assassin’s Creed: Unity ditulis oleh Oliver Bowden. Dalam versi novel, tokoh Élise lebih banyak diceritakan daripada Arno (tokoh utama versi game). Edisi terjemahan bahasa Indonesia novel ini akan diterbitkan pertengahan 2015 oleh Fantasious. Beberapa hal lain tentang novel ini bisa dibaca di Duniaku. Berikut ini cuplikan novelnya; saya pilih adegan pertemuan pertama Arno dan Élise (sewaktu kecil).

12 September 1794

Hubungan kami diikat dengan benang kematian—kematian ayahku.

Berapa lama kami menjalani hubungan yang biasa dan lazim? Setengah jam? Waktu itu aku berada di Istana Versailles bersama ayahku yang sedang punya urusan di sana. Ayah menyuruhku menunggu sementara dia mengerjakan urusan apa pun itu. Selagi aku duduk sambil mengayun-ayunkan kaki, melihat para penghuni istana yang berdarah biru berlalu lalang, siapa lagi yang muncul kalau bukan Élise de la Serre.

Senyumnya kelak aku cintai, rambut merahnya kala itu tidak istimewa bagiku, dan kecantikannya yang nanti membuat mataku sebagai orang dewasa betah menatapnya tak tampak di mataku sewaktu kecil. Apa boleh buat, waktu itu aku baru delapan tahun. Anak laki-laki delapan tahun, yah, mereka tidak senang meluangkan waktu untuk anak perempuan delapan tahun, kecuali anak perempuan delapan tahun itu sangat istimewa. Dan Élise istimewa. Ada sesuatu yang berbeda pada dirinya. Dia masih anak-anak. Tapi bahkan dalam beberapa detik bertemu dengannya aku tahu dia tidak seperti anak perempuan lain yang pernah bertemu denganku.

Kejar aku. Permainan kesukaan Élise. Sudah berapa kali kami bermain kejar-kejaran sebagai anak-anak dan orang dewasa? Dalam hal ini, kami tidak pernah berhenti.

Di lantai marmer istana yang bisa digunakan untuk becermin kami berlarian—melewati kaki demi kaki, lorong demi lorong, tiang demi tiang, pilar demi pilar. Sekarang pun istana itu sangat luas bagiku, langit-langitnya terlalu tinggi, lorong-lorongnya terentang sejauh mata bisa memandang, jendela-jendela besar dengan bagian atas melengkung memberi kita pemandangan teras batu dan lahan di baliknya.

Tapi pada waktu itu? Bagiku istana itu luar biasa luas. Namun, walaupun tempat itu amat besar dan ganjil, walaupun setiap langkah membawaku semakin jauh dari perintah ayahku, aku tak sanggup menahan diri dari ajakan teman bermainku yang baru. Anak-anak perempuan lain tidak seperti dia. Mereka berdiri dengan kaki dirapatkan dan bibir ditekuk, memandang rendah semua hal yang berhubungan dengan anak laki-laki; mereka berjalan beberapa langkah di belakang, bagaikan versi boneka rusia dari ibu mereka; mereka tidak berlari sambil cekikikan di lorong-lorong Istana Versailles, tidak menghiraukan protes siapa pun, sekadar berlari karena suka berlari dan gemar bermain. Terpikir olehku sekarang, apakah waktu itu aku sudah jatuh cinta?

Kemudian, tepat ketika aku mulai khawatir aku tidak bisa kembali ke tempat Ayah, kekhawatiranku tidak berlaku lagi. Seseorang berteriak. Terdengar bunyi kaki orang-orang bergegas datang. Aku melihat prajurit-prajurit bersenapan musket dan, secara kebetulan, aku sampai di tempat ayahku tadi bertemu dengan pembunuhnya. Aku berlutut di sampingnya saat dia mengembuskan napas terakhir.

Ketika aku akhirnya mendongak dari tubuh Ayah yang tak lagi bernyawa, aku melakukannya untuk menatap penolongku, pengganti orangtuaku: François de la Serre.

Note: I am the official Indonesian translator of Assassin’s Creed novels. This post is published under the approval of the Indonesian publisher of Assassin’s Creed novels, Fantasious.

Advertisements

3 thoughts on “Assassin’s Creed: Unity (novel teaser – Indonesian translation)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s