Latihan TSN 2

Akhir pekan ini saya akan menjalani Tes Sertifikasi Nasional HPI untuk Penerjemah. Saya mengambil tes kategori umum untuk pasangan bahasa Inggris-Indonesia. Informasi lanjutan mengenai TSN 2016 dapat dilihat di sini. Singkatnya, peserta tes menerjemahkan dua artikel yang totalnya sekitar 1.000 kata, berarti masing-masing sekitar 500 kata. Peserta boleh membawa materi cetak untuk mempermudah penerjemahan.

Saya mengumpulkan beberapa artikel dengan berbagai topik untuk saya jadikan latihan. Teks yang saya tampilkan di bawah ini adalah terjemahan dari sebuah artikel di nationalgeographic.com. Artikel ini terdiri dari 491 kata teks sumber atau 483 kata teks terjemahan dan diterjemahkan dalam 59 menit. Materi pendukung yang saya gunakan adalah Tesamoko: Tesaurus Bahasa Indonesia Edisi Kedua (Gramedia, 2016) dan Collins Compact Dictionary & Thesaurus Second Edition (Harper Collins, 2006).

Klik di sini untuk melihat teks sumber.

Gajah Pengungsi Berlindung di Suaka Terakhir Afrika

Taman Nasional Chobe, Botswana – Gajah-gajah berenang menyeberangi sungai dalam satu barisan, belalai mereka terulur ke atas air seperti snorkel. Sambil menggerung dengan suara berat dari tenggorokannya, mereka merapatkan tubuh mereka, membentuk biduk hidup untuk memanggul anak gajah yang terlalu mungil untuk berenang sendiri.

Armada kecil fauna berkulit tebal ini mempunyai tempat tujuan yang berbahaya: Pesisir berumput di Namibia, tempat gajah menjadi permainan gratis bagi pemburu legal. Mereka akan mempertaruhkan nyawa untuk makan di sini sebelum menyeberangi Sungai Chobe lagi, kembali ke taman Nasional Chobe Botswana yang aman.

Untuk menghindari para pemburu gading di negara-negara tetangga seperti Namibia, Zambia, dan Angola, gajah-gajah seperti keluarga gajah ini beramai-ramai melarikan diri ke Chobe, tempat sebagian besar perburuan ilegal diredam.

“Gajah-gajah kami pada dasarnya adalah pengungsi,” kata Michael Chase, pendiri kelompok konservasi Elephants Without Borders yang berbasis di Botswana. Mereka mengupayakan koridor lintasbatas untuk para gajah bepergian dengan aman antarnegara.

Gajah bukan satu-satunya binatang yang berjuang bertahan hidup di Botswana utara yang gersang dan sulit. Namun, walaupun Chobe menyediakan sejumlah perlindungan, tempat itu bukanlah suaka yang paling nyaman. Ekosistemnya yang semakin kering menjadi semakin rapuh juga saat menyambung hidup begitu banyak binatang berbobot enam ton, masing-masing makan hampir 300 kilogram pangan per hari.

Dari helikopter di atas Taman pada Oktober siang yang sangat terik, bentangan alam itu terlihat seperti, menurut Chase, bekas terkena nuklir dalam perang: Hanya ada beberapa area kecil yang masih hijau menghiasi lahan berisi pepohonan dan semak-semak kering yang terbentang bagai tiada akhir.

Raksasa-raksasa kelabu itu, terlihat sangat besar bahkan dari udara, bergerak perlahan di bawah, mengikuti hidung mereka yang menunjukkan jalan ke segelintir lubang air yang tersisa pada musim ini. Hujan semestinya turun sebentar lagi, tapi sementara ini gajah-gajah terdesak. Mereka bisa minum air sungai, tapi mereka lebih suka minum dari lubang air terpisah karena sungai biasanya berbahaya untuk disinggahi dalam waktu lama.

“Gajah-gajah ini sudah makan beberapa tanaman, seperti pohon marula dan akasia, hingga punah dalam skala lokal. Karena terpaksa makan kulit pohon, beberapa gajah Chobe mati akibat sumbatan saluran pembuangan,” kata Chase.

“Ironi dari gajah-gajah mengungsi di Gurun Kalahari, lingkungan yang tidak memadai untuk menopang gajah sebanyak ini, adalah tragedi,” katanya.

Dikepung oleh pemburu dan perkembangan peradaban manusia, jumlah gajah Afrika merosot hingga 30 persen dalam beberapa puluh tahun belakangan, menurut Sensus Gajah Besar 2016, survei gajah terbesar yang pernah dilakukan dalam skala benua.

Dulu tersebar dari dataran pesisir Cape Town hingga kaki Gunung Kilimanjaro, spesies ini telah jatuh dari 1,3 juta pada tahun 1970-an menjadi 352.000 sekarang, menurut survei yang dipimpin oleh Elephants Without Borders itu. The International Union for Conservation of Nature memasukkan gajah Afrika ke dalam daftar fauna yang rawan punah.

Ketika Chase mulai memasang kerah dan melacak raksasa-raksasa ini 20 tahun lalu, dia terkejut melihat data awal GPS yang dia peroleh: gajah-gajah melarikan diri dari wilayah-wilayah yang tidak aman ke wilayah-wilayah yang aman, lalu melakukan perjalanan akbar untuk pulang.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s