Latihan TSN 3

Akhir pekan ini saya akan menjalani Tes Sertifikasi Nasional HPI untuk Penerjemah. Saya mengambil tes kategori umum untuk pasangan bahasa Inggris-Indonesia. Informasi lanjutan mengenai TSN 2016 dapat dilihat di sini. Singkatnya, peserta tes menerjemahkan dua artikel yang totalnya sekitar 1.000 kata, berarti masing-masing sekitar 500 kata. Peserta boleh membawa materi cetak untuk mempermudah penerjemahan.

Saya mengumpulkan beberapa artikel dengan berbagai topik untuk saya jadikan latihan. Teks yang saya tampilkan di bawah ini adalah terjemahan dari sebuah artikel di nationalgeographic.com. Artikel ini terdiri dari 538 kata teks sumber atau 483 kata teks terjemahan dan diterjemahkan dalam 65 menit. Materi pendukung yang saya gunakan adalah Kamus Inggris-Indonesia (John M. Echols dan Hassan Shadily, Gramedia, 2006), Tesamoko: Tesaurus Bahasa Indonesia Edisi Kedua (Gramedia, 2016), dan Collins Compact Dictionary & Thesaurus Second Edition (Harper Collins, 2006).

Klik di sini untuk melihat teks sumber.

 

Cara Memetakan Sungai dengan Bubuk Mesiu

 

COLORADO SPRINGS, Colorado—Unsur tidak tertebak adalah hal yang memikat kartografer Matt Doley kepada konsep membuat peta dengan bubuk mesiu.

“Mustahil mengaturnya,” kata dia. “Jadi ini adalah kesempatan untuk pasrah, relaks, dan membuka diri terhadap kejutan.”

Setelah sepuluh tahun menjadi profesor di University of Wisconsin-River Falls, Dooley merasa terkekang oleh kerutinan. “Kartografi yang hambar dan membosankan” adalah cara dia mendeskripsikan pekerjaannya pada masa itu. Kemudian pada suatu hari, di halaman kampus dekat kantornya, dia melihat beberapa mahasiswa seni sedang bereksperimen dengan bubuk mesiu dan kertas, menyulut karya mereka.

“Saya langsung terpesona,” kata Dooley. Dia sudah melihat dokumentasi tentang seni bubuk mesiu karya seniman Tiongkok bernama Cai Gua-Qiang, tapi dulu tidak terpikir olehnya untuk mencobanya sendiri hingga momen di halaman kampus itu. “Saya pikir, apakah sudah ada orang mencoba membuat peta dengan bubuk mesiu?”

Dengan bantuan Randy Johnston, profesor UW sekaligus seniman bubuk mesiu yang sudah mapan, Dooley mempelajari dasar-dasarnya dan mulai bereksperimen dengan membuat peta-peta sungai.

Untuk membuat peta bubuk mesiu, pertama-tama Dooley membuat stensil kertas berdasarkan sebuah sungai. Lalu dia mengapit stensil itu dengan dua lembar kertas dan dua potong tripleks, dengan bubuk mesiu di atas stensil. Setelah apitan itu dibebani oleh batu-batu bata, Dooley membakar sumbu dan mundur.

Ketika tersulut, bubuk mesiu menodai kertas di bawah stensil dengan hasil yang berbeda-beda, tergantung jumlah bubuk yang digunakan dan bobot beban di atasnya. Terlalu banyak bubuk mesiu menghancurkan stensil dan menjadikannya tidak berbentuk, walaupun kadang-kadang terlihat menarik, berantakan di kertas. Kombinasi yang tepat di antara bubuk mesiu dan bobot beban dapat menciptakan pola detail yang cantik.

Dooley sudah mengasah keahliannya dari pengalaman mencoba-coba, dengan beberapa kecelakaan kecil saja. Contoh, dia sudah tahu bahwa lebih baik kita menyediakan waktu untuk menjauhi bubuk mesiu dengan menggunakan sumbu panjang. Pelajaran ini diperolehnya setelah Dooley berusaha menyalakan bubuk mesiu dengan obor las dan kehilangan cukup banyak rambut wajah.

Subjek yang lebih disukai Dooley adalah sungai, seperti Sungai Mississippi dan Missouri pada gambar di atas di daerah Twin Cities. Satu alasan dia suka memetakan sungai, katanya, adalah terlalu banyak peta referensi AS didominasi oleh jalan alih-alih sistem alam. Sekarang dia menarik perhatian masyarakat kepada  sistem-sistem alam itu dengan meledak-ledak.

Sebenarnya, bunyinya “fhhhwuum,” kartografer Nick Martinelli berkata dalam presentasi peta-peta bubuk mesiu di rapat tahunan Himpunan Informasi Kartografi Amerika Utara di Colorado Springs pada Oktober ini.

Martinelli belajar cara membuat peta bubuk mesiu di bengkel kerja yang diadakan Dooley tahun lalu. Para peserta bekerja sama membuat peta Sungai Mississippi dari Minneapolis hingga St. Louis (di atas pos ini), yang menarik banyak perhatian saat dipamerkan di konferensi Himpunan dan dimasukkan ke dalam Atlas of Design baru. Setiap petak peta dibuat oleh peserta yang berbeda, dan kita dapat melihat foto dari dekat di bawah ini bahwa hasilnya berbeda-beda berdasarkan seberapa terkendali atau liarnya penampakan setiap bagian. Walaupun bubuk mesiu dipandu oleh stensil, kadang-kadang ada bubuk yang lolos dan membuat efek berseni di luar jalur sungai.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s