Pengalaman Menerjemahkan Winnetou

Image

 

 

 

 

Judul: Winnetou Apache, Old Shatterhand: The Wild West Journey

Penulis: Karl May

Penerbit: Visimedia, September 2013

Harga: Rp49.900,00

 

 

 

 

 

Aku masih ingat hari aku diminta menerjemahkan Winnetou. Waktu itu aku main ke kantor Visimedia untuk menumpang menyelesaikan penerjemahan Mr. Justice Raffles, sekaligus ikut makan-makan ulang tahun Mba Muthia Esfand, editor jagoan yang menyunting Winnetou. Ternyata ada satu urusan lagi yang membuatku diundang ke kantor Visimedia: penerjemahan Winnetou.

Tentu aku senang mendapatkan kesempatan untuk menerjemahkan karya Karl May yang mendunia ini. Walaupun aku sendiri belum pernah membaca Winnetou, teman-teman kuliahku sudah merekomendasikan novel petualangan ini.

Aku tidak bisa berbahasa Jerman selain “guten morgen, Frau Niken”, jadi mustahil aku menerjemahkan Winnetou dari bahasa aslinya itu. Naskah yang diberikan kepadaku adalah terjemahan Winnetou dalam bahasa Inggris-Amerika, diterjemahkan oleh George A. Alexander.

Image

Dibandingkan Mr. Justice Raffles, menerjemahkan Winnetou lebih mudah… itu kalau aku menutup mata terhadap fakta bahwa naskah yang kuterjemahkan sudah merupakan naskah terjemahan. Sudah terlalu banyak orang Indonesia membaca Winnetou. Kalau aku nekat menerjemahkannya dari terjemahan Alexander tanpa menengok naskah asli dan terjemahan-terjemahan Indonesia sebelumnya, bisa-bisa aku tidak menyadari perubahan yang dibuat oleh Alexander dan meloloskannya ke dalam terjemahanku.

Naskah asli Winnetou mudah diperoleh dari Gutenberg.com. Tidak demikian halnya dengan terjemahan-terjemahan Indonesia Winnetou. Novel Winnetou volume pertama sulit sekali diperoleh. Aku perlu beberapa minggu untuk memburunya, padahal aku tidak bisa menghabiskan waktu sebanyak itu tanpa menerjemahkan, jadi untuk sementara aku meminjam Winnetou I terbitan Pustaka Primatama dari perpustakaan kampus. Aku bahkan sempat berburu ke kios-kios buku bekas; tidak percuma, aku menemukan Winnetou terjemahan Indonesia terbitan Noor Komala pada tahun 1970-an.

Image

Berbekal naskah-naskah ini, proses penerjemahan yang aku lakukan menjadi agak rumit.

  1. membaca terjemahan Alexander, menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia
  2. mencari paragraf yang sedang kuterjemahkan di dalam naskah asli (bahasa Jerman)
  3. menyalin paragraf dari naskah asli ke Google Translator untuk mendapatkan terjemahan mentahnya dalam bahasa Indonesia
  4. memeriksa terjemahan versi Pustaka Primatama dan Noor Komala
  5. dengan mempertimbangkan semua temuan di atas, memperbaiki terjemahan sendiri

Tahap yang paling sulit itu bagian kedua; aku sering menyalin paragraf yang salah (ketahuan salah ketika melihat hasil terjemahan Google Translator) karena tidak paham bahasa Jerman. Namun, ketelitian ini membuatku menemukan perubahan-perubahan yang dibuat oleh Alexander terhadap naskah asli. Sejauh pembacaanku, Winnetou terbitan Pustaka Primatama setia terhadap naskah asli. Alexander membuat sedikit perubahaan agar pembaca Amerika Serikat, menurutnya, lebih nyaman membaca Winnetou. Juga ada beberapa perubahan dalam Winnetou terbitan Noor Komala yang dibuat demi pembaca Indonesia (pada masa terbitnya). Setiap penerjemah sebelum aku mempunyai kebijakan dan pertimbangan masing-masing yang tidak bisa aku lewatkan.

Contoh paling sederhana adalah kata seru Howgh! yang diubah oleh Alexander menjadi How! agar sesuai dengan lidah pembaca sasarannya. Melihat teman-teman di dunia maya menggunakan Howgh! saat menanggapi kabar bahwa aku sedang membaca/menerjemahkan Winnetou, aku putuskan untuk memilih Howgh! yang sudah familier bagi pembaca Indonesia.

Hal lain yang mempersulit penerjemahan Winnetou adalah nasib binatang-binatang di dalam cerita ini. Aku sangat sedih ketika kuda dan beruang disakiti oleh manusia, padahal binatang-binatang itu tidak akan mengganggu manusia apabila tidak diganggu lebih dulu. Aku juga sedih saat semakin memahami makna cerita ini: ketidakadilan yang diderita orang-orang pribumi Amerika (“Indian”) yang digusur oleh orang-orang kulit putih.

“Kalau kami menerapkan hukum kami, kami akan membunuh kalian semua. Tapi kami hanya meminta hukum kalian diterapkan dengan setara kepada kami. Tapi apakah itu dilakukan? Tidak! Hukum kalian bermuka dua, dan muka yang kalian hadapkan kepada kami adalah muka yang menguntungkan kalian.”

Visimedia membagi volume pertama Winnetou I terjemahanku menjadi dua buku. Maka Winnetou, Apache, Old Shaterhand: The Wild West Journey yang terbilang tipis ini berisi separuh cerita Winnetou I. Visimedia ingin memperkenalkan Winnetou kepada pembaca remaja dan mengajak pembaca yang sudah mengenal Winnetou untuk bernostalgia.

Advertisements

One thought on “Pengalaman Menerjemahkan Winnetou

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s