Pengalaman Menerjemahkan Mr. Justice Raffles

Terjemahan terbaruku baru saja diterbitkan oleh Visimedia Pustaka. Keistimewaannya adalah buku kali ini fiksi klasik, terbit pertama kali pada tahun 1909. Ini bukan novel klasik pertama yang aku terjemahkan, tapi memang ini pertama kali aku menerjemahkan novel klasik langsung dari bahasa aslinya. Sebelumnya, aku pernah menerjemahkan novel klasik dari terjemahan bahasa Inggrisnya, sedangkan bahasa aslinya adalah Jerman.

Mr. Justice Raffles karya Ernest William Hornung, Visimedia Pustaka, April 2013
Mr. Justice Raffles karya Ernest William Hornung, Visimedia Pustaka, April 2013

Mr. Justice Raffles adalah satu-satunya novel tentang si pencuri ulung, A.J. Raffles. Tidak berarti ini satu-satunya kisah tentang Raffles yang tampan dan berbadan atletis (sehari-hari dia menjadi pemain kriket amatir). Banyak cerpen mendului novel ini menjadi beberapa kumpulan cerpen. Eh, tapi di sini aku tidak bermaksud membahas tentang novelnya, tetapi menceritakan pengalamanku saat menerjemahkannya.

Sebelum mulai membaca curcolku (ups), silakan ikut giveaway berhadiah Mr. Justice Raffles yang berakhir 25 April 2013 (klik di sini) dan membaca review teman-teman di Goodreads (klik di sini).

Genre misteri yang menjadi isi cerita Mr. Justice Raffles memberikan kesulitan pertama. Potongan-potongan informasi harus dikumpulkan dan disatukan sebelum bisa dipahami, padahal pemahaman mengenai jalan cerita sangat berpengaruh terhadap penerjemahan, jadi saya coba baca dulu. Pada adegan pertama ujug-ujug Raffles datang dan berbicara tentang hal-hal yang sudah dilakukannya selama dua minggu terakhir. Tunggu dulu, aku bahkan belum paham Raffles itu seperti apa dan biasanya melakukan apa. Jadi rasanya seperti diberondong berbagai informasi yang bertalian dengan berbagai hal yang tidak ada di halaman pertama.

Raffles had vanished from the face of the town, and even I had no conception (cek kamus) of his whereabouts until he cabled (hmm) to me to meet the 7.31 at Charing Cross (turun di peron 9 3/4?) next night. That was on the Tuesday before the ‘Varsity match (rrr, harus tanya Om Google), or a full fortnight after his mysterious disappearance. The telegram was from Carlsbad (ya terus tempat ini kenapa?), of all places for Raffles of all men! (sensitif amat, Raffles kenapa sih? Ada kontradiksi apa?) Of course there was only one thing (alasan apa sih?) that could possibly have taken so rare a specimen of physical fitness (mmm Raffles badannya sehat banget toh) to any such pernicious (cek kamus) spot. But to my horror he emerged from the train, on the Wednesday evening, a cadaverous (cek kamus) caricature of the splendid person (iya deh Raffles oke banget) I had gone to meet. (Hornung, 2003: 8)

Peran Carlsbad dalam cerita ini baru kupahami banyak halaman sesudahnya sehingga aku bisa menambahkan “tempat pengobatan yang berbahaya” untuk Carlsbad pada terjemahan paragraf di atas (kenapa Raffles ke sana? Baca bukunya dong kalau mau tahu~). Sesudah membaca bab pertama Raffles, aku mencari informasi tentang Raffles di internet dan membaca kumpulan cerpen The Amateur Cracksman. Kumcer itu cukup membantuku karena beberapa kali Bunny atau Raffles mengungkit kasus lampau yang diceritakan di situ.

Dengan bantuan Om Google, aku tahu ternyata Varsity match adalah pertandingan antaruniversitas, tepatnya untuk olahraga Kriket. Pengetahuan ini juga membantu untuk menebak kata Lord’s yang sering disebut-sebut Raffles, yaitu Lord’s Cricket Ground. Pembaca yang hidup pada masa dan tempat cerita ini diterbitkan kali pertama bisa langsung mengasosiasikan Lord’s dengan lapangan kriket terkenal itu, tapi pembaca Indonesia sekarang (termasuk aku) menebak Lord’s apa? Bar? Restoran? (nah lho, nah lho)

Kriket… aku dibuat kewalahan oleh istilah-istilah kriket. Seperti curhatnya Bunny Manders sendiri (sebagai “aku” dalam novel ini), “The technical slang of the modern cricket-field is ever a weariness; at the moment it was something worse.” Selain Raffles kadang-kadang berbicara dengan perumpamaan kriket, pada Bab X ada pertandingan kriket yang dipaparkan dengan lumayan terperinci. Jadilah saya mengembara di Wikipedia dan Youtube untuk memelajari kriket.

A ball had been driven hard to extra cover (?), and quite well fielded (?); another had been taken […] but not returned to the bowler (?). (Hornung, 2003: 123)

Contoh di atas baru permulaan pertandingan, ciyus.

Ada lagi kebiasaan Raffles yang membuatku garuk-garuk meja =)) Raffles suka berbicara dengan berbagai macam metafora dan rujukan sastra atau seni yang beredar pada zaman hidupnya. Kecenderungan ini muncul pada dialog Raffles. Rasanya aku ingin mencubit si atlet ganteng itu :p. Misalnya, Raffles menjuluki musuhnya sebagai Mr. Shylock (dari karya Shakespeare, The Merchant of Venice) dan memakai istilah latin dalam satu kalimat sekaligus, lalu menyebut taktik kuno pada kalimat berikutnya.

Soal kebiasaan Raffles ini, Bunny sendiri pernah kewalahan.

“You must tell me about that, Raffles,” said I, tiring a little of his kaleidoscopic metaphors. (Hornung, 2003: 34)

Aku ingin bersalaman dengan Bunny, tapi kadang-kadang Bunny juga berbicara seperti Raffles dengan alasan “ketularan kebiasaan Raffles”. Uhuhuhu…

Saat menerjemahkan istilah-istilah agama, senjata, dan adegan berantem, seperti biasa aku berkonsultasi kepada teman-teman penulis dari LCDP. Hal lain yang sempat membuatku bingung adalah jalur perjalanan Raffles dan Bunny pada sebuah adegan dengan bendi dan kereta api. Untuk memperjelas pemahamanku, aku tandai tempat-tempat tujuan mereka di Google Map. Untunglah lokasi-lokasinya masih ada (tidak berubah nama) pada zaman sekarang.

Reka Ulang Jalur Perjalanan Raffles dan Bunny
Reka Ulang Jalur Perjalanan Raffles dan Bunny

Di balik segala keruwetan dalam penerjemahannya, Mr. Justice Raffles memberiku pengalaman seru, tidak kalah seru dibanding petualangan Raffles sendiri. Kepuasannya seperti berhasil memecahkan teka-teki yang rumit. Semoga para pembaca juga puas dengan hasilnya. Terima kasih kepada Visimedia Pustaka dan teman-teman yang telah membantuku :D.

Referensi

Hornung, Ernest William. 2003 (ebook proyek Gutenberg). Mr. Justice Raffles. Diunduh dari Gutenberg.com pada November 2012.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s