Terjemahan Prolog Clockwork Princess

Lagi-lagi sembari menunggu Clockwork Princess (buku ketiga sekaligus pamungkas seri The Infernal Devices karya Cassandra Clare), saya terjemahkan prolognya (separuh dulu, separuh lagi menyusul).  Teks sumber diperoleh dari website @TMIndo. Prolog ini sudah diedarkan sebagai bahan promosi oleh penerbit aslinya. Edisi terjemahan Indonesia akan diterbitkan oleh Ufuk Fiction (lini fiksi Ufuk Publishing House).

Clockwork Princess (The Infernal Devices, Buku Tiga)
Clockwork Princess (The Infernal Devices, Buku Tiga)

York 1847

 

“Aku takut,” kata gadis kecil yang duduk di ranjang. “Kakek, temani aku saja ya?”

Aloysius Starkweather berdeham dengan tidak sabar saat menarik kursinya mendekat ke samping ranjang dan duduk. Bunyi tidak sabar tadi hanya separuh sungguhan. Dia senang bahwa cucunya sangat memercayainya, bahwa sering kali hanya dia yang bisa menenangkan sang cucu. Walaupun rapuh, gadis kecil itu tidak pernah keberatan dengan sikap Aloysius yang galak.

“Kau tidak perlu takut apa-apa, Adele,” kata pria itu. “Nanti kau tahu.”

Gadis kecil itu menatap Aloysius dengan matanya yang besar. Biasanya upacara pemasangan rune pertama diadakan di salah satu tempat yang lebih besar di Institut York, tapi karena Adele kurang berani dan kurang sehat, telah disepakati bahwa upacara itu bisa dilakukan di kamarnya yang aman. Gadis kecil itu duduk di tepi ranjang, punggungnya sangat tegak. Gaun upacaranya merah, dengan pita merah menahan rambut pirangnya yang halus. Matanya besar pada wajahnya yang kurus, kedua tangannya ceking. Apa pun tentang dirinya serapuh sebuah cangkir porselen.

“Saudara Hening,” katanya. “Mereka akan melakukan apa kepadaku?”

“Kemarikan tanganmu,” kata Aloysius, lalu Adele mengulurkan lengan tangannya dengan percaya.  Aloysius membalik tangan itu, melihat pembuluh darah yang membuat jalur biru pucat di bawah kulit. “Mereka akan menggunakan stela mereka—kau tahu stela apa—untuk menggambar Tanda pada kulitmu. Biasanya dimulai dengan rune Waskita, yang kau sudah tahu dari pelajaranmu, tapi khusus untukmu mereka akan mulai dengan dengan Kekuatan.”

“Karena aku tidak kuat.”

“Untuk memperkuat landasanmu.”

“Seperti kaldu sapi untuk memperkuat rasa.” Adele mengerutkan hidungnya.

Aloysius tertawa. “Semoga tidak sepayah itu. Kau akan merasa disengat sedikit, jadi kau harus  berani dan tidak menangis, karena Pemburu Bayangan tidak menangis kesakitan. Rasa disengatnya akan hilang, lalu kau akan merasa jauh lebih kuat dan lebih baik. Maka upacara berakhir lalu kita turun dan nanti ada kue-kue lapis gula untuk merayakannya.”

Adele menggoyang kakinya ke depan. “Ada pesta juga!”

“Iya, pesta. Ada hadiah juga.” Aloysius menepuk sakunya, tempat sebuah kotak kecil disembunyikan—kotak kecil berbungkus kertas biru cantik, yang menyimpan sebuah cincin keluarga yang lebih kecil lagi. “Aku bawa satu hadiah untukmu di sini. Kau akan mendapatkannya begitu upacara Penandaan selesai.”

“Belum pernah ada pesta untukku.”

“Ini karena kau akan menjadi Pemburu Bayangan,” kata Aloysius. “Kau tahu kenapa itu penting, bukan? Tanda-tanda pertamamu  memberi arti kau adalah Nephilim, seperti aku, seperti ibu dan ayahmu. Itu berarti kau anggota Kunci. Anggota keluarga kita yang kesatria. Sesuatu yang berbeda dan lebih baik daripada semua orang lain.”

“Lebih baik daripada semua orang lain,” ia membeo perlahan ketika pintu kamarnya dibuka dan dua Saudara Hening masuk. Aloysius melihat kilap perasaan takut di mata Adele. Gadis kecil itu menarik tangannya dari genggaman sang kakek. Aloysius mengerutkan dahi—dia tidak senang melihat keturunannya takut, walaupun dia tidak bisa menyangkal bahwa Saudara Hening memang menyeramkan dengan keheningan mereka dan khususnya gerakan mereka yang meluncur. Mereka bergerak ke samping ranjang Adele ketika pintu dibuka lagi dan masuklah orangtua Adele. Ayah Adele, putra Aloysius yang berbaju tempur warna merah tua; istrinya bergaun merah yang menyempit di pinggang, dan seuntai kalung keemasan yang digantungi sebuah rune Malaikat. Mereka tersenyum kepada anak perempuan mereka, yang membalas mereka dengan senyum lebar, walaupun para Saudara Hening sedang mengelilinginya.

Adele Lucinda Starkweather. Itu suara Saudara Hening pertama, Saudara Cimon. Sekarang usiamu cukup. Ini kali pertama Tanda-tanda Malaikat diijabkan kepadamu. Apakah kau mengetahui kehormatan yang diberikan kepadamu, dan akankah kau berusaha sebaik mungkin untuk memantaskan diri?

Adele mengangguk dengan patuh. “Ya.”

Dan apakah kau menerima tanda-tanda Malaikat ini, yang akan tertera pada tubuhmu selamanya, sebagai pengingat bahwa kau bersyariat kepada sang Malaikat, dan mempunyai tanggung jawab sakral bagi dunia?

Ia mengangguk lagi dengan patuh. Hati Aloysius menghangat karena bangga. “Aku terima,” kata cucunya.

Maka kita mulai. Sebuah stela berkilat, dipegang oleh tangan Saudara Hening yang putih dan panjang. Dia mengambil tangan Adele yang gemetaran dan menaruh ujung stela pada kulitnya, lalu mulai menggambar.

Garis-garis hitam berputar keluar dari ujung stela, sementara dengan takjub Adele melihat simbol Kekuatan terbentuk pada kulit lengan bawahnya yang pucat. Tanda itu berupa desain halus yang terdiri dari garis-garis yang silang-menyilang, menyilang pembuluh-pembuluh darahnya, membungkus lengannya. Tubuhnya tegang, gigi-giginya yang mungil menekan bibir bawahnya. Matanya diangkat dengan cepat kepada Aloysius, lalu sang kakek membelalak akibat apa yang dilihatnya pada mata itu.

Kesakitan. Lazim bahwa kesakitan terasa saat pengijaban sebuah Tanda, tapi apa yang dilihatnya di dalam mata Adele—adalah derita.

Aloysius tersentak berdiri, membuat kursi terdorong meluncur ke belakangnya. “Berhenti!” dia berteriak, tapi tetap terlambat. Rune sudah selesai digambar. Para Saudara Hening mundur, tercenung. Ada darah pada stela. Adele merengek, mengingat imbauan kakeknya agar tidak menangis—tapi kemudian kulitnya yang berdarah dan koyak mulai terkelupas dari tulang-tulang tangannya, menghitam dan terbakar di bawah Tanda seolah rune itu adalah api, kemudian ia tidak tahan untuk menengadah jauh ke belakang, dan menjerit, dan menjerit.

London 1873

“Will?” Charlotte Fairchild mendorong pintu ruang latihan Institut. “Will, kau di sini?”

Erang yang ditahan adalah satu-satunya jawaban. Pintu dibuka penuh, menampakkan ruangan lebar berlangit-langit tinggi di baliknya. Charlotte sendiri dibesarkan dengan berlatih di sini, dan ia mengenal setiap lapis papan lantai, sebuah sasaran tua yang dicat pada dinding sebelah utara, jendela-jendela kaca berbentuk bujur sangkar yang sudah tua sekali sehingga bagian bawahnya lebih tebal daripada bagian atas. Di tengah ruangan ini berdiri Will Herondale, sebuah pisau tergenggam di tangan kanannya.

Kepala Will ditolehkan untuk menatap Charlotte, dan sekali lagi Charlotte berpikir betapa anehnya anak ini—walaupun pada usia dua belas tahun, Will hampir bukan anak-anak lagi. Will anak laki-laki yang sangat rupawan, dengan rambut gelap tebal yang mengombak sedikit pada bagian rambutnya menyentuh kerah—sekarang basah dengan keringat, dan menempel ke dahinya. Kulit Will kecokelatan akibat udara dan matahari pedesaan pada kali pertama datang ke Institut, tapi enam bulan hidup di kota telah menguras warna itu, membuat rona merah pada tulang pipinya menonjol. Mata Will berwarna biru terang yang tidak biasa. Dia akan menjadi pria tampan suatu hari, kalau dia bisa menghilangkan kerut yang terus-menerus membuat wajahnya ditekuk.

“Ada apa, Charlotte?” hardik Will. Dia masih berbicara dengan sedikit logat daerah Wales, caranya menggulung bunyi vokal pasti memesona seumpama nada suaranya tidak semasam itu.

Will menyapukan lengan bajunya ke dahi saat Charlotte melewati pintu, lalu berhenti, “Aku sudah mencarimu berjam-jam,” kata Charlotte dengan sedikit kasar, walaupun kekasaran hampir tidak berpengaruh kepada Will. Tidak banyak pengertian yang Will miliki saat suasana hatinya sedang baik, dan suasana hatinya hampir selalu tidak baik. “Kau tidak ingat apa kataku kemarin, bahwa kita akan menyambut pendatang baru di Institut hari ini?”

“Oh, aku ingat.” Will melempar pisau. Senjata itu menusuk tepat di luar lingkaran sasaran, membuat kerut di dahi Will semakin dalam. “Aku tidak peduli saja.”

Anak laki-laki di belakang Charlotte terdengar menahan suara. Tertawa, Charlotte sangka, tapi tidak mungkin anak itu tidak tertawa? Charlotte telah diperingatkan bahwa anak laki-laki yang datang ke Institut dari Shanghai tidak sehat, tapi ia masih kaget ketika anak itu turun dari kereta kuda. Wajahnya pucat dan tubuhnya terhuyung-huyung seperti alang-alang tertiup angin, rambut ikalnya yang gelap mempunyai belang keperakan seakan-akan dia pria berusia delapan puluhan, bukan anak laki-laki dua belas tahun. Matanya lebar dan hitam keperakan, rupawan dengan ganjil tapi memberikan kesan seram pada wajah sehalus itu.

“Will, kau harus sopan,” kata Charlotte sekarang, lalu ia menarik anak laki-laki itu keluar dari belakangnya, mendesak anak itu agar berjalan lebih dulu memasuki ruangan. “Jangan ambil hati perkataan Will. Dia sering uring-uringan saja. Will Herondale, aku perkenalkan James Carstairs, dari Institut Shanghai.”

by Cassandra JP
by Cassandra JP

“Jem,” kata anak laki-laki itu. “Semua orang memanggilku Jem.” Dia maju selangkah lagi ke dalam ruangan, matanya menatap Will dengan rasa penasaran yang ramah. Dia berbicara tanpa bekas logat daerah lain, Charlotte terkejut, tapi ayah, mendiang ayah, anak itu memang orang Inggris. “Kau juga panggil aku Jem saja.”

“Yah, kalau semua orang memanggilmu itu, berarti itu bukan keistimewaan bagiku, bukan?” Nada suara Will tajam. Bagi orang semua itu, Will luar biasa mampu bersikap tidak menyenangkan. “Menurutku kau akan tahu, James Carstairs, bahwa kalau kau mengurus dirimu sendiri dan tidak menggangguku, itu yang terbaik bagi kita berdua.”

Charlotte mendesah di dalam hati. Semula ia sangat berharap bahwa anak ini, sebaya dengan Will, akan menjadi alat untuk melucuti amarah dan ketajaman Will. Tapi tampak jelas bahwa Will bersungguh-sungguh saat berkata dia tidak peduli ada anak laki-laki Pemburu Bayangan lain yang datang ke Institut. Will tidak menginginkan teman, juga tidak ingin berteman. Charlotte melirik Jem, mengira anak itu akan mengerjapkan mata dengan terkejut atau terluka, tapi anak itu hanya tersenyum sedikit, seolah Will seekor anak kucing yang tadi berusaha menggigitnya. “Aku belum berlatih sejak pergi dari Shanghai,” katanya. “Aku perlu pasangan—untuk berlatih tanding.”

“Aku juga,” kata Will. “Tapi aku perlu seseorang yang bisa seimbang denganku, bukan makhluk penyakitan yang terlihat seperti tinggal didorong ke kuburan. Walaupun aku rasa kau bisa berguna menjadi sasaran.”

Charlotte, karena mengetahui sesuatu tentang James Carstairs—fakta yang belum disampaikannya kepada Will—merasa mual dan ngeri. Seperti tinggal didorong ke kuburan, oh ya Tuhan. Apa kata ayah Charlotte? Bahwa Jem tergantung kepada obat untuk menyambung hidup, semacam obat yang bisa memperpanjang hidupnya tapi tidak menyembuhkannya. Oh, Will.

Charlotte seperti hendak bergerak ke antara kedua anak laki-laki itu, seolah ia bisa melindungi Jem dan kekejaman Will, kekejaman yang saat itu lebih telak daripada yang Will sendiri ketahui—tapi lalu Charlotte berhenti.

Raut wajah Jem bahkan tidak berubah. “Kalau maksudmu ‘tinggal didorong ke kuburan’ adalah sebentar lagi mati, itu benar,” katanya. “Umurku tinggal dua tahun lagi, tiga kalau aku beruntung, kata orang begitu.”

Bahkan Will tidak bisa menyembunyikan kekagetannya. Pipi Will merona merah. “Aku…”

Tapi Jem sudah maju menuju sasaran yang dicat pada dinding. Saat Jem sampai di situ, dia menarik pisau dari kayu. Lalu Jem berbalik dan berjalan lurus kepada Will. Walaupun Jem tampak rapuh, tinggi mereka sama, dan dengan hanya berjarak beberapa inci satu sama lain mata mereka bertemu dan bertahan. “Kau bisa menggunakanku sebagai sasaran untuk berlatih kalau kau mau,” kata Jem, dengan santai seperti sedang mengomentari cuaca. “Sepertinya aku tidak perlu takut dengan latihan itu, karena kau tidak terlalu pandai melempar.” Dia berbalik, membidik, dan membiarkan pisaunya terbang. Pisau itu menancap tepat di jantung sasaran, bergetar sedikit. “Atau,” Jem melanjutkan, berbalik kembali kepada Will, “kau bisa membiarkan aku mengajarimu. Karena aku sangat pandai melempar.”

Charlotte membelalak. Selama setengah tahun ia melihat Will menyakiti semua orang yang berusaha mendekatinya—para tutor; ayah Charlotte; tunangan Charlotte, Henry; kedua Lightwood bersaudara—dengan campuran kebencian dan kekejaman yang sangat tajam. Seumpama Charlotte sendiri bukan satu-satunya orang yang pernah melihat Will menangis, ia merasa pasti sudah putus asa juga, dulu sekali, bahwa Will akan pernah bersikap baik kepada siapa pun. Namun, di sinilah Will, menatap Jem Carstairs, anak laki-laki yang tampak sangat rapuh sehingga seperti terbuat dari kaca, dengan raut wajah keras Will perlahan luntur menjadi keraguan sementara. “Kau tidak benar-benar sebentar lagi mati,” kata Will, nada suaranya paling ganjil, “bukan?”

Jem mengangguk, “Kata orang iya.”

“Aku minta maaf,” kata Will.

“Tidak,” kata Jem dengan lembut. Dia menarik jaketnya ke samping dan mengambil sebuah pisau dari ikat pinggangnya. “Jangan menjadi tidak istimewa seperti itu. Jangan minta maaf. Katakan kau akan berlatih denganku.”

Jem mengulurkan pisau itu kepada Will, dengan gagang di depan. Charlotte menahan napas, takut untuk bergerak. Charlotte merasa sedang menyaksikan sesuatu yang sangat penting terjadi, walaupun ia tidak tahu apa.

Will meraih dan mengambil pisau itu, matanya tidak pernah melepaskan wajah Jem. Jari-jari Will bersentuhan dengan jari-jari Jem saat Will mengambil senjata darinya. Itu kali pertama, pikir Charlotte, ia pernah melihat Will menyentuh orang lain dengan kehendaknya sendiri.

“Aku akan berlatih denganmu,” kata Will.

Advertisements

2 thoughts on “Terjemahan Prolog Clockwork Princess

  1. Mbak Vio, ini bukunya beneran bakal diterbitin kan terjemahannya?
    Soalnya ada yang bilang, ufuk udah ga akan produksi lagi.
    Apa benar?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s