never look a gift horse in the mouth – jangan pernah ngintip mulut kuda (pasti bau!)

Menerjemahkan idiom biasanya tidak mudah, apalagi kalau pengarang mengkreasikan idiomnya lagi. Contohnya ini yang saya ambil dari The Awakening (seri The Darkest Powers, buku 2) karya Kelley Armstrong.

One: never look a gift horse in the mouth. Two: if it sounds too good to be true, it probably is. I’d been lied to and misled often enough in the last few days that I wasn’t just questioning this horse’s dental health—I was examining him from nose to tail.

Idiom too good to be true saya terjemahkan menjadi terlalu muluk seperti yang diusulkan Teh Rini di blognya :). Arti look a gift horse in the mouth adalah “kalau diberi sesuatu, jangan ngelunjak”. Bahasa Indonesia punya idiom yang maknanya kira-kira sama, yaitu “diberi hati, minta jantung”. Tapi bagaimana dengan this horse’s dental health—I was examining him from nose to tail? Akhirnya saya coba terjemahkan seperti ini.

Satu: kalau diberi hati, jangan minta jantung pula. Kedua, kalau apa yang diberikan kepadamu kedengarannya terlalu muluk, ya mungkin memang terlalu muluk. Aku sudah cukup sering dibohongi dan ditipu dalam beberapa hari terakhir ini sehingga aku tidak hanya memeriksa hati dan jantung itu sehat atau tidak—aku memeriksa semua organ tubuh lainnya juga.

 

picture from aniceplaceinthesun.blogspot.com
Advertisements

7 thoughts on “never look a gift horse in the mouth – jangan pernah ngintip mulut kuda (pasti bau!)

      1. Halo Mba Melody, saya peserta workshop Sabtu kemarin dan waktu lagi googling untuk referensi jawab latihannya saya sampai ke sini (tapi belum sempat komentar, hehehe). Yang pertama terlintas di kepala memang seperti dibilang mba Rini *salim dulu, kangennn*: diwenehi ati ngrogoh rempela. Suka sama cara Mba Melody menerjemahkan kalimat terakhirnya :).

  1. Horeee!!! Horeee!! Terjemahannya paasss!! *tepuk tangan*

    Duh Mel, sejujurnya gue nggak terlalu minat sm translation (kecuali kalo ada hubungannya dgn menerjemahkan kata2 yg culture-specific kyk yg lu bahas ini. Tp kalo dipikir2 lagi sebenarnya semua kata itu culture-specific sih kayak yg dibillang Anna Wierzbicka). Dulu nilai terjemahan gue cuma B+. Nilai gue cuma sempurna waktu nerjemahin sastra, kalau nerjemahin non-fiksi dan (yg lebih parah) nerjemahin menu/instruksi benda2 elektronik, nilai gue kacaaauu….

    terjemahan hukum gue lumayan (ini juga karena diajarin nyokap). Kalo terjemahan jurnalistik gue bagus (kyknya emg gue bakatnya di dunia ini).

    lu punya contoh terjemahan yg non fiksi ga Mel?

    1. gw lagi sit in di 2 kelas terjemahan, hehe, gw juga lebih senang nerjemahin fiksi xD

      biasanya gw nerjemahin nonfiksi dari buku cetak, bukan ebook, jadi lupa kalimat aslinya apa 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s