Pengumuman Pemenang Assassin’s Creed: Black Flag

BlackFlagBanner

Tanggal 5 hingga jam 3 sore tadi aku menggelar kuis berhadiah novel Assassin’s Creed: Black Flag (lihat post sebelum ini). Di situ aku menayangkan bab pertama Black Flag dan menantang teman-teman untuk membuat shanty (lagu pelaut) dari ceritanya. Tidak banyak lagu yang dibuat, tapi semua lucu, membuatku kesulitan memilih dua pemenang. :D

Yah, tapi aku tetap harus memilih dua lagu yang menurutku sendiri paling mewakili bab 1 Black Flag. Ini dia mereka.

Reja Marjana

Akulah Sang Bajak laut, berlayar merompak
Akulah kapten tak kenal takut, dan siap menghadang

Sayang-sayang aku lapar, koki mati jatuh dari kapal
Begitupun asistennya, terkapar minum kencing segelas

Tapi aku tetap tak risau, mari cari penggantinya
Ada kapal mari serang, jarah dan ambil kokinya

Kapal karam koki dapat, aku potong hidung orang
Makan enak hati senang, tak sadar ada masalah

 

Amelia Aura

kami perompak yang kompak
datang menyerbu secara serempak
melumpuhkanmu sekali tembak
sampai kapalmu rusak
tenggelam ditelan ombak
(hei, para juragan!) kami kumpulkan kalian
untuk menemukan koki andalan
demi memuaskan perut kami yang keroncongan

 

Selamat untuk Reja dan Amelia. Mohon segera berikan alamat kalian via message kepada fanpage Fantasious.

Bagi teman-teman yang belum beruntung di sini, siap-siap meluncur ke dua blog berikutnya dalam blog tour ini:
http://www.h23bc.com 9-11 Juni 2014
http://dionyulianto.blogspot.com/ 12-14 Juni 2014

 

Assassin’s Creed Black Flag Blog Tour: First Chapter Reveal and Giveaway

BlackFlagBanner

 

 

Alhamdulillah buku terjemahanku terbit lagi. Kali ini novel terbaru dari serial game Assassin’s Creed dengan judul Black Flag. Teman-teman yang sudah membaca buku sebelumnya, Forsaken, mungkin ingat dengan tokoh Edward Kenway? Apabila di Forsaken Edward hanya muncul sebentar, di Black Flag Edward menjadi tokoh utama. Sesungguhnya, Forsaken berlatar waktu sesudah Black Flag. Jadi, tanpa membaca Forsaken dulu (maupun novel-novel Assassin’s Creed lainnya) kita bisa menikmati Black Flag.

Black Flag berkisah tentang masa muda Edward Kenway, pemuda asal Bristol, Inggris. Bagaimana dia yang semula anak peternak domba di Bristol bisa menjadi bajak laut yang disegani di Karibia, dan akhirnya seorang Assassin? Ikuti perjalanan hidupnya yang emosional dalam novel ini. Emosional tidak berarti cengeng lho; maksudku gregetan, hehehe.

Untuk mempromosikan novel ini, Fantasious mengadakan blog tour yang dimulai di sini. Setiap blog menayangkan satu bab dari Black Flag dan menyelenggarakan kuis berhadiah dua eksemplar Black Flag. Baca dulu bab pertama Assassin’s Creed: Black Flag agar bisa jawab pertanyaan kuis yang tertera sesudahnya.

 

 

 

Assassin’s Creed®

Black Flag

OLIVER BOWDEN

 

1

1719 (atau sekitar itu)

 

Aku pernah memotong hidung orang.

Aku tidak ingat persis kapan kejadiannya: 1719 atau sekitar itu. Tidak ingat juga di mana. Tapi aku ingat kami sedang merompak sebuah kapal brig Spanyol, kapal perang pendek bertiang dua. Kami mengincar muatannya, tentu saja. Aku bangga dengan predikatku sebagai kapten yang selalu memastikan kapal Jackdaw punya persediaan cukup. Tapi ada sesuatu yang lain di kapal itu. Sesuatu yang kami perlukan tapi tidak kami punya. Seseorang, tepatnya. Koki kapal.

Koki kapal kami dan asistennya sudah mati dua-duanya. Asisten koki tertangkap basah sedang kencing di balas kapal, padahal aku melarang kelakuan itu. Jadi, kuhukum mereka dengan cara yang biasa, minum segelas besar kencingnya kru. Sejujurnya, sebelumnya tidak pernah ada orang mati gara-gara dihukum minum kencing, tapi itulah nasib si asisten koki. Dia minum gelas kencing itu, malamnya tidur, dan tidak pernah bangun. Koki baik-baik saja bekerja sendirian untuk beberapa lama, tapi dia suka minum rum dan habis itu cari udara segar di atas geladak buritan. Aku biasa dengar dia lompat-lompat di atap kabinku, sedang joget. Sampai suatu malam aku dengar dia lompat-lompat di atap kabinku dan joget—lalu aku dengar suara teriak dan bunyi orang terjebur.

Lonceng dibunyikan dan para kru berlarian ke geladak. Kami sudah menurunkan sauh dan menyalakan lentera dan obor, tapi si koki tidak terlihat.

Koki dan asistennya pernah menyuruh anggota-anggota kru membantu mereka, tentu saja, tapi mereka cuma bocah, tidak ada yang bisa melakukan apa-apa soal masakan selain mengaduk isi panci atau mengupas kentang. Jadi sejak saat itu kami terpaksa mengisi perut dengan makanan mentah. Tidak seorang pun di antara kami tahu apa-apa selain merebus air dengan panci.

Nah, tidak lama sebelumnya kami merompak sebuah kapal perang. Dari kegiatan sampingan seru itu kami menjarah sebuah baterai artileri yang amat sangat baru dan sebuah peti penuh senjata: pedang cutlass, tembiang, senapan musket, bubuk mesiu, dan peluru.

Dari salah seorang kru yang kami tangkap, yang kemudian menjadi kru kapalku, aku jadi tahu bahwa para juragan Spanyol punya sebuah kapal persediaan khusus yang mempekerjakan seorang koki yang luar biasa mahir. Konon dia pernah menjadi koki di istana, tapi dia membuat Ratu marah sehingga dia dipecat. Aku tidak percaya sedikit pun, tapi aku tetap menyampaikannya kepada kru kapalku. Koki itu akan memasak untuk kami mulai minggu ini. Kemudian kami memburu kapal yang satu itu dengan serius, dan saat kami menemukannya, kami langsung menyerbunya.

Baterai artileri baru kami sangat berguna. Kami menyejajarkan kapal kami dan memberondong kapal incaran sampai kapal itu rusak, layarnya compang-camping dan kemudinya hancur ke dalam air.

Kapal itu sudah miring saat kruku melempar kait dan menyeberang ke atasnya, merayapi tubuhnya seperti tikus, udara penuh bau mesiu, bunyi letusan senapan musket dan dentang cutlass mulai ramai. Aku berada di tengah mereka seperti biasa, cutlass di satu tangan dan bilah tersembunyi terhunus di tangan lain, cutlass untuk bertarung, bilah tersembunyi untuk pamungkas. Dua musuh mendatangiku dan aku menghabisi orang pertama, menghunjamkan cutlass ke atas kepalanya dan membelah topi tricorne yang dia kenakan ketika pedangku memotong kepalanya hingga hampir menjadi dua. Dia jatuh berlutut dengan bilah pedang cutlass menancap di antara kedua matanya tapi masalahnya adalah aku menghunjamkan pedangku terlalu dalam, dan ketika aku berusaha menariknya, tubuhnya yang sedang menggelepar ikut tertarik. Sekarang musuh kedua berada di depanku, matanya ketakutan, pasti tidak biasa bertarung, dan dengan sejentik pedangku saja aku memotong hidungnya.

Efeknya sesuai harapanku, dia jatuh ke belakang dengan darah memancur dari lubang tempat hidungnya semula berada. Sementara itu, aku memakai kedua tanganku untuk ahirnya menarik pedangku dari tengkorak penyerang pertamaku dan melanjutkan pertarungan. Semuanya berakhir dalam waktu singkat, dengan korban jiwa sesedikit mungkin, karena aku sudah mengumumkan perintah khusus bahwa demi apa pun koki tidak boleh terluka—apa pun yang terjadi, kataku, kita harus mengambil koki hidup-hidup.

Kapal mereka tenggelam dan kami berlayar kembali, meninggalkan kabut asap mesiu dan laut berisi pecahan lambung kapal dan serpihan kapal rusak yang mengambang naik-turun. Kami mengumpulkan kru mereka di dek utama untuk mencari koki. Hampir semua kru kami meneteskan air liur, menahan perut yang keroncongan. Saat itu kami menyadari bahwa kru mereka gemuk. Biasa makan enak.

Caroline-lah yang mengajariku cara menghargai makanan enak. Caroline, cinta sejatiku. Dalam waktu terlalu singkat yang kami habiskan bersama, dia telah mengasah seleraku dan aku senang berpikir bahwa dia pasti menyetuju kebijakanku soal makanan, dan bahwa aku telah menularkan kecintaanku terhadap makanan enak kepada kru kapalku. Aku melakukannya karena aku tahu, berkat Caroline juga, bahwa pria yang makan enak adalah pria yang bahagia, dan pria yang bahagia adalah kapten kapal yang tidak mudah merasa kepemimpinannya terancam. Karena itulah selama bertahun-tahun melaut aku tidak pernah mengendus satu usaha pemberontakan pun.

“Ini aku,” kata orang itu sambil maju selangkah. Tapi kata-katanya terdengar seperti, “Inhi akhu,” gara-gara mukanya yang diperban, gara-gara ada orang tolol yang memotong hidungnya.

 

Sudah agak kebayang kan bagaimana kehidupan bajak laut pada masa itu? Sekarang ikut kuisnya, yuk :D

1. Share artikel ini ke salah satu media sosialmu. Follow @fantasiousID di Twitter dan Facebook fanpage Fantasious.

2. Buatkan sebait lagu sederhana, 4-8 baris saja, tentang pengalaman Edward di bab 1 yang sudah kita baca di atas. (Bajak laut gemar mendendangkan shanty–lagu pelaut.)

3. Tulis lagu buatanmu di kolom komentar bersama link akun sosial yang kamu gunakan untuk share artikel ini (jangan di-private dulu ya).

4. Boleh membuat dua entri asalkan dengan lagu yang berbeda dan akun media sosial yang berbeda.

Kuis berlangsung 5 Juni 2014 hingga 7 Juni 2014 pukul 15.00 WIB. Dua pemenang diumumkan beberapa jam kemudian (kalau tidak ada mati lampu atau gangguan lain di tempatku) di blog ini juga. Hadiah akan dikirimkan oleh penerbit Fantasious ke alamat di Indonesia.

Apabila kamu belum beruntung di sini, siap-siap meluncur ke dua blog berikutnya dalam blog tour ini:
http://www.h23bc.com 9-11 Juni 2014
dionyulianto.blogspot.com 12-14 Juni 2014

Istilah-istilah Perkapalan

Assassin’s Creed: Black Flag bercerita tentang seorang bajak laut. Saat menerjemahkan buku sebelumnya, saya menulis kosakata Berbagai Macam Dermaga. Kali ini saya mengumpulkan kosakata perkapalan.

 

deck – geladak
sterndeck – buritan
main deck – geladak utama
forecastle – geladak balkon depan
aftercastle/sterncastle – geladak balkon belakang
poop deck – geladak tinggi
quarterdeck – geladak belakang

hull – badan kapal
bow – haluan kapal
galley – dapur
ratline – tali layar
magazine – gudang amunisi
jib – layar sorong depan
tiller – pasak kemudi
gunwale – bibir kapal

coxswain – juru mudi
quartermaster – perwira
deckhand – kelasi

swivel gun – meriam putar
mounted gun – meriam utama
carriage gun – meriam utama

yawl – sampan
dandy – sampan berlayar
rowing boat – perahu dayung

Assassin's Creed: Black Flag versi terjemahan Indonesia akan diterbitkan oleh Fantasious (Grup Ufuk) akhir Mei 2014

Assassin’s Creed: Black Flag versi terjemahan Indonesia akan diterbitkan oleh Fantasious (Grup Ufuk) akhir Mei 2014

Harga Buku Terjemahan Mahal? (Menyambung Tulisan Lulu)

melodyvioline:

Ada banyak komponen yang memengaruhi harga buku.

Originally posted on bruziati:

577317_10202043530077978_841476683_n

Silakan baca tulisan Lulu di sini. Lulu pernah bekerja sebagai editor in house, jadi sedikit banyak punya pengalaman dalam menentukan harga buku terjemahan.

Karena penasaran betul mengenai harga buku terjemahan yang semakin lama semakin mahal, saya akhirnya ‘mewawancarai’ Mbak Hetih Rusli, editor fiksi di Gramedia Pustaka Utama. Berikut jawaban dari Mbak Hetih:

Komponen standar (ongkos produksi buku) terdiri atas biaya cetak, biaya gudang, biaya promosi, biaya distribusi, dll. Untuk buku terjemahan selain biaya penerjemahan, ada biaya pembelian rights dan royalti juga. Sama sebenarnya dengan buku lokal, yang memberi royalti ke pengarang.

View original 584 more words

Harga Buku Terjemahan Mahal?

melodyvioline:

Ternyata begini…

Originally posted on LAMFARO:

blog-2

Beberapa hari yang lalu, teman saya Uci bercerita tentang pembaca yang gundah karena harga buku terjemahan berbeda tipis dengan buku aslinya. Karena dulu saya pernah bekerja di penerbit, Uci menanyakan pendapat saya, benarkah harga buku terjemahan bisa begitu mengerikan hingga hampir menyamai buku asli?

Begini saja. Coba kita lihat harga buku yang terbit tahun ini. Pertama, Inferno karya Dan Brown. Saat tulisan ini diturunkan, harga buku aslinya di Periplus adalah Rp295.000 (hardcover) dan Rp360.000 (softcover, large print). Di Book Depository, harga setelah diskon dengan kurs sekarang sekitar Rp285.000 (hardcover) dan Rp341.000 (softcover, large print). Buku terjemahannya, terbitan Mizan, dijual Rp125.000 (softcover) belum diskon.

Kedua, The Cuckoo’s Calling karya Robert Galbraith. Di Periplus, harga buku aslinya Rp312.000 (hardcover) dan Rp270.000 (softcover). Masih buku asli, di Book Depository, harganya setelah diskon dengan kurs sekarang sekitar Rp275.300 (hardcover)…

View original 644 more words

Pengalaman Menerjemahkan Winnetou

Image

 

 

 

 

Judul: Winnetou Apache, Old Shatterhand: The Wild West Journey

Penulis: Karl May

Penerbit: Visimedia, September 2013

Harga: Rp49.900,00

 

 

 

 

 

Aku masih ingat hari aku diminta menerjemahkan Winnetou. Waktu itu aku main ke kantor Visimedia untuk menumpang menyelesaikan penerjemahan Mr. Justice Raffles, sekaligus ikut makan-makan ulang tahun Mba Muthia Esfand, editor jagoan yang menyunting Winnetou. Ternyata ada satu urusan lagi yang membuatku diundang ke kantor Visimedia: penerjemahan Winnetou.

Tentu aku senang mendapatkan kesempatan untuk menerjemahkan karya Karl May yang mendunia ini. Walaupun aku sendiri belum pernah membaca Winnetou, teman-teman kuliahku sudah merekomendasikan novel petualangan ini.

Aku tidak bisa berbahasa Jerman selain “guten morgen, Frau Niken”, jadi mustahil aku menerjemahkan Winnetou dari bahasa aslinya itu. Naskah yang diberikan kepadaku adalah terjemahan Winnetou dalam bahasa Inggris-Amerika, diterjemahkan oleh George A. Alexander.

Image

Dibandingkan Mr. Justice Raffles, menerjemahkan Winnetou lebih mudah… itu kalau aku menutup mata terhadap fakta bahwa naskah yang kuterjemahkan sudah merupakan naskah terjemahan. Sudah terlalu banyak orang Indonesia membaca Winnetou. Kalau aku nekat menerjemahkannya dari terjemahan Alexander tanpa menengok naskah asli dan terjemahan-terjemahan Indonesia sebelumnya, bisa-bisa aku tidak menyadari perubahan yang dibuat oleh Alexander dan meloloskannya ke dalam terjemahanku.

Naskah asli Winnetou mudah diperoleh dari Gutenberg.com. Tidak demikian halnya dengan terjemahan-terjemahan Indonesia Winnetou. Novel Winnetou volume pertama sulit sekali diperoleh. Aku perlu beberapa minggu untuk memburunya, padahal aku tidak bisa menghabiskan waktu sebanyak itu tanpa menerjemahkan, jadi untuk sementara aku meminjam Winnetou I terbitan Pustaka Primatama dari perpustakaan kampus. Aku bahkan sempat berburu ke kios-kios buku bekas; tidak percuma, aku menemukan Winnetou terjemahan Indonesia terbitan Noor Komala pada tahun 1970-an.

Image

Berbekal naskah-naskah ini, proses penerjemahan yang aku lakukan menjadi agak rumit.

  1. membaca terjemahan Alexander, menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia
  2. mencari paragraf yang sedang kuterjemahkan di dalam naskah asli (bahasa Jerman)
  3. menyalin paragraf dari naskah asli ke Google Translator untuk mendapatkan terjemahan mentahnya dalam bahasa Indonesia
  4. memeriksa terjemahan versi Pustaka Primatama dan Noor Komala
  5. dengan mempertimbangkan semua temuan di atas, memperbaiki terjemahan sendiri

Tahap yang paling sulit itu bagian kedua; aku sering menyalin paragraf yang salah (ketahuan salah ketika melihat hasil terjemahan Google Translator) karena tidak paham bahasa Jerman. Namun, ketelitian ini membuatku menemukan perubahan-perubahan yang dibuat oleh Alexander terhadap naskah asli. Sejauh pembacaanku, Winnetou terbitan Pustaka Primatama setia terhadap naskah asli. Alexander membuat sedikit perubahaan agar pembaca Amerika Serikat, menurutnya, lebih nyaman membaca Winnetou. Juga ada beberapa perubahan dalam Winnetou terbitan Noor Komala yang dibuat demi pembaca Indonesia (pada masa terbitnya). Setiap penerjemah sebelum aku mempunyai kebijakan dan pertimbangan masing-masing yang tidak bisa aku lewatkan.

Contoh paling sederhana adalah kata seru Howgh! yang diubah oleh Alexander menjadi How! agar sesuai dengan lidah pembaca sasarannya. Melihat teman-teman di dunia maya menggunakan Howgh! saat menanggapi kabar bahwa aku sedang membaca/menerjemahkan Winnetou, aku putuskan untuk memilih Howgh! yang sudah familier bagi pembaca Indonesia.

Hal lain yang mempersulit penerjemahan Winnetou adalah nasib binatang-binatang di dalam cerita ini. Aku sangat sedih ketika kuda dan beruang disakiti oleh manusia, padahal binatang-binatang itu tidak akan mengganggu manusia apabila tidak diganggu lebih dulu. Aku juga sedih saat semakin memahami makna cerita ini: ketidakadilan yang diderita orang-orang pribumi Amerika (“Indian”) yang digusur oleh orang-orang kulit putih.

“Kalau kami menerapkan hukum kami, kami akan membunuh kalian semua. Tapi kami hanya meminta hukum kalian diterapkan dengan setara kepada kami. Tapi apakah itu dilakukan? Tidak! Hukum kalian bermuka dua, dan muka yang kalian hadapkan kepada kami adalah muka yang menguntungkan kalian.”

Visimedia membagi volume pertama Winnetou I terjemahanku menjadi dua buku. Maka Winnetou, Apache, Old Shaterhand: The Wild West Journey yang terbilang tipis ini berisi separuh cerita Winnetou I. Visimedia ingin memperkenalkan Winnetou kepada pembaca remaja dan mengajak pembaca yang sudah mengenal Winnetou untuk bernostalgia.

Winged Cupid Painted Blind

Tiba-tiba aku diminta menerjemahkan beberapa baris dari A Midsummer Night’s Dream karya Shakespeare. Ini adegan ketika Helena heran kenapa Demetrius kesengsem kepada Hermia. Aku belum pernah baca naskah drama ini, tapi pernah baca ceritanya di Topeng Kaca =)). Jadi, kucoba saja ^^

Love looks not with the eyes, but with the mind,
And therefore is winged Cupid painted blind.
Nor hath love’s mind of any judgement taste;
Wings and no eyes figure unheedy haste.
And therefore is love said to be a child,
Because in choice he is so oft beguiled.

Cinta tidak melihat dengan mata, namun dengan kepala,
Demikianlah Cupid bersayap dilukis buta matanya.
Tidak jua cinta risaukan timbangan segala selera;
Bersayap dan buta menjadikan gegabah dan tidak peka.
Demikianlah cinta dikatakan menyerupai bocah,
Karena di kala memilih cinta acap kali lengah.

Topeng Kaca 13 (Elex Media)

Topeng Kaca 13 (Elex Media)

Pengalaman Menerjemahkan Mr. Justice Raffles

Terjemahan terbaruku baru saja diterbitkan oleh Visimedia Pustaka. Keistimewaannya adalah buku kali ini fiksi klasik, terbit pertama kali pada tahun 1909. Ini bukan novel klasik pertama yang aku terjemahkan, tapi memang ini pertama kali aku menerjemahkan novel klasik langsung dari bahasa aslinya. Sebelumnya, aku pernah menerjemahkan novel klasik dari terjemahan bahasa Inggrisnya, sedangkan bahasa aslinya adalah Jerman.

Mr. Justice Raffles karya Ernest William Hornung, Visimedia Pustaka, April 2013

Mr. Justice Raffles karya Ernest William Hornung, Visimedia Pustaka, April 2013

Mr. Justice Raffles adalah satu-satunya novel tentang si pencuri ulung, A.J. Raffles. Tidak berarti ini satu-satunya kisah tentang Raffles yang tampan dan berbadan atletis (sehari-hari dia menjadi pemain kriket amatir). Banyak cerpen mendului novel ini menjadi beberapa kumpulan cerpen. Eh, tapi di sini aku tidak bermaksud membahas tentang novelnya, tetapi menceritakan pengalamanku saat menerjemahkannya.

Continue reading

Terjemahan Bab 1 Clockwork Princess (Adegan 1)

Sebenarnya penerjemahan Clockwork Princess belum dimulai, tapi saya juga rindu menerjemahkan seri The Infernal Devices. Berhubung bab pertamanya sudah diedarkan oleh Simon & Schuster dan sudah diizinkan oleh Ufuk Fiction, saya cicil terjemahkan saja. Teks asli diperoleh dari web TMIndo dan sudah diperiksa ke laman resmi dari Simon & Schuster. Karena masih mencicil, syair pembukanya belum diterjemahkan dan terjemahan ini pun masih akan diperiksa lagi.

The Infernal Devices adalah trilogi karya Cassandra Clare yang merupakan prekuel bagi seri The Mortal Instruments (film hasil adaptasi buku pertamanya, City of Bones, akan dirilis Agustus tahun ini). Clockwork Princess adalah buku ketiga yang menutup Clockwork Angel dan Clockwork Prince. Edisi bahasa Indonesia Clockwork Angel dan Clockwork Prince sudah terbit dan bisa dipesan lewat Ufuk Fiction.

Clockwork Princess (The Infernal Devices, Buku Tiga)

Clockwork Princess (The Infernal Devices, Buku Tiga)

Bab 1

“Desember adalah waktu yang tak terduga untuk menikah,” kata si penjahit, berbicara selagi mulutnya penuh peniti dengan mudah karena sudah terlatih bertahun-tahun. “Seperti kata orang, ‘Saat salju Desember turun dengan lebat, menikahlah, maka cintamu sejati senantiasa.’” Ia memasang peniti terakhir pada gaun dan mundur. “Nah. Bagaimana menurutmu? Gaun ini dibuat berdasarkan salah satu rancangan gaun Charles Frederick Worth sendiri.”

Continue reading

Arsip Tagar #Terjemahan 21 Februari – 1 Maret 2013

hogshead – tong bir
pannier – rok kurung
to cut and run – kabur
motes – partikel debu
mischievous – badung
lay to heart – meresapi
blue-bottle fly – lalat biru
as such – dengan demikian
indescribably – tak terperi
Venetian blinds – tirai sirip

1 dram – setengah sendok teh
far gone – teler/mabuk/pening
valiantly – dengan gagah berani
in staccato – dengan patah-patah
down-stream – searah dengan arus
as well it might – sebaiknya begitu
in the sense of – dalam pengertian
safe and sound – sehat dan selamat
keep one’s powder dry – bersiap siaga
to push off – berangkat/berjalan pergi
just so you know – supaya kau tahu saja

as hard as nails – (orang yang) dingin/kaku
so far as that goes – mengenai hal tersebut
to do someone in – membunuh seseorang
can’t help it – tidak ada yang bisa dilakukan
with eyes open – dengan sadar sepenuhnya
your precious friend – teman kesayanganmu
common, low detectives – detektif kelas teri
one’s elders and betters – orang yang lebih tua
from every point of view – dari sudut mana pun
pass with flying colors – sangat mudah/berhasil
that’s all there is to it – itu saja/sesederhana itu
to some purpose – untuk alasan/tujuan tertentu
(to do something) for two pins – untuk hal sepele

as far as we are concerned – dari sudut pandang kita
laughing on the wrong side of your mouth – menangis
don’t give yourself away – jangan membuka rahasiamu
in one’s glory – dalam keadaan sangat senang/berhasil
there’s nothing (else) for it – tidak ada jalan/pilihan lain
moving heaven and hell – memindahkan gunung dan laut
live beyond your means – hidup besar pasak daripada tiang
at all events/in any event/in any case – apa pun yang terjadi
note of hand (= promissory note) – surat sanggup bayar (utang)
shake the dust off one’s feet – mengebaskan debu dari tapak kaki
inspite of oneself – walaupun tidak menginginkannya/menyukainya
by hook or crook – dengan cara apa pun (dengan jalan halal maupun haram)
give up something as though it were a bad job – menyerah karena merasa sia-sia