Harga Buku Terjemahan Mahal? (Menyambung Tulisan Lulu)

melodyvioline:

Ada banyak komponen yang memengaruhi harga buku.

Originally posted on bruziati:

577317_10202043530077978_841476683_n

Silakan baca tulisan Lulu di sini. Lulu pernah bekerja sebagai editor in house, jadi sedikit banyak punya pengalaman dalam menentukan harga buku terjemahan.

Karena penasaran betul mengenai harga buku terjemahan yang semakin lama semakin mahal, saya akhirnya ‘mewawancarai’ Mbak Hetih Rusli, editor fiksi di Gramedia Pustaka Utama. Berikut jawaban dari Mbak Hetih:

Komponen standar (ongkos produksi buku) terdiri atas biaya cetak, biaya gudang, biaya promosi, biaya distribusi, dll. Untuk buku terjemahan selain biaya penerjemahan, ada biaya pembelian rights dan royalti juga. Sama sebenarnya dengan buku lokal, yang memberi royalti ke pengarang.

View original 584 more words

Harga Buku Terjemahan Mahal?

melodyvioline:

Ternyata begini…

Originally posted on :

blog-2

Beberapa hari yang lalu, teman saya Uci bercerita tentang pembaca yang gundah karena harga buku terjemahan berbeda tipis dengan buku aslinya. Karena dulu saya pernah bekerja di penerbit, Uci menanyakan pendapat saya, benarkah harga buku terjemahan bisa begitu mengerikan hingga hampir menyamai buku asli?

Begini saja. Coba kita lihat harga buku yang terbit tahun ini. Pertama, Inferno karya Dan Brown. Saat tulisan ini diturunkan, harga buku aslinya di Periplus adalah Rp295.000 (hardcover) dan Rp360.000 (softcover, large print). Di Book Depository, harga setelah diskon dengan kurs sekarang sekitar Rp285.000 (hardcover) dan Rp341.000 (softcover, large print). Buku terjemahannya, terbitan Mizan, dijual Rp125.000 (softcover) belum diskon.

Kedua, The Cuckoo’s Calling karya Robert Galbraith. Di Periplus, harga buku aslinya Rp312.000 (hardcover) dan Rp270.000 (softcover). Masih buku asli, di Book Depository, harganya setelah diskon dengan kurs sekarang sekitar Rp275.300 (hardcover)…

View original 644 more words

Pengalaman Menerjemahkan Winnetou

Image

 

 

 

 

Judul: Winnetou Apache, Old Shatterhand: The Wild West Journey

Penulis: Karl May

Penerbit: Visimedia, September 2013

Harga: Rp49.900,00

 

 

 

 

 

Aku masih ingat hari aku diminta menerjemahkan Winnetou. Waktu itu aku main ke kantor Visimedia untuk menumpang menyelesaikan penerjemahan Mr. Justice Raffles, sekaligus ikut makan-makan ulang tahun Mba Muthia Esfand, editor jagoan yang menyunting Winnetou. Ternyata ada satu urusan lagi yang membuatku diundang ke kantor Visimedia: penerjemahan Winnetou.

Tentu aku senang mendapatkan kesempatan untuk menerjemahkan karya Karl May yang mendunia ini. Walaupun aku sendiri belum pernah membaca Winnetou, teman-teman kuliahku sudah merekomendasikan novel petualangan ini.

Aku tidak bisa berbahasa Jerman selain “guten morgen, Frau Niken”, jadi mustahil aku menerjemahkan Winnetou dari bahasa aslinya itu. Naskah yang diberikan kepadaku adalah terjemahan Winnetou dalam bahasa Inggris-Amerika, diterjemahkan oleh George A. Alexander.

Image

Dibandingkan Mr. Justice Raffles, menerjemahkan Winnetou lebih mudah… itu kalau aku menutup mata terhadap fakta bahwa naskah yang kuterjemahkan sudah merupakan naskah terjemahan. Sudah terlalu banyak orang Indonesia membaca Winnetou. Kalau aku nekat menerjemahkannya dari terjemahan Alexander tanpa menengok naskah asli dan terjemahan-terjemahan Indonesia sebelumnya, bisa-bisa aku tidak menyadari perubahan yang dibuat oleh Alexander dan meloloskannya ke dalam terjemahanku.

Naskah asli Winnetou mudah diperoleh dari Gutenberg.com. Tidak demikian halnya dengan terjemahan-terjemahan Indonesia Winnetou. Novel Winnetou volume pertama sulit sekali diperoleh. Aku perlu beberapa minggu untuk memburunya, padahal aku tidak bisa menghabiskan waktu sebanyak itu tanpa menerjemahkan, jadi untuk sementara aku meminjam Winnetou I terbitan Pustaka Primatama dari perpustakaan kampus. Aku bahkan sempat berburu ke kios-kios buku bekas; tidak percuma, aku menemukan Winnetou terjemahan Indonesia terbitan Noor Komala pada tahun 1970-an.

Image

Berbekal naskah-naskah ini, proses penerjemahan yang aku lakukan menjadi agak rumit.

  1. membaca terjemahan Alexander, menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia
  2. mencari paragraf yang sedang kuterjemahkan di dalam naskah asli (bahasa Jerman)
  3. menyalin paragraf dari naskah asli ke Google Translator untuk mendapatkan terjemahan mentahnya dalam bahasa Indonesia
  4. memeriksa terjemahan versi Pustaka Primatama dan Noor Komala
  5. dengan mempertimbangkan semua temuan di atas, memperbaiki terjemahan sendiri

Tahap yang paling sulit itu bagian kedua; aku sering menyalin paragraf yang salah (ketahuan salah ketika melihat hasil terjemahan Google Translator) karena tidak paham bahasa Jerman. Namun, ketelitian ini membuatku menemukan perubahan-perubahan yang dibuat oleh Alexander terhadap naskah asli. Sejauh pembacaanku, Winnetou terbitan Pustaka Primatama setia terhadap naskah asli. Alexander membuat sedikit perubahaan agar pembaca Amerika Serikat, menurutnya, lebih nyaman membaca Winnetou. Juga ada beberapa perubahan dalam Winnetou terbitan Noor Komala yang dibuat demi pembaca Indonesia (pada masa terbitnya). Setiap penerjemah sebelum aku mempunyai kebijakan dan pertimbangan masing-masing yang tidak bisa aku lewatkan.

Contoh paling sederhana adalah kata seru Howgh! yang diubah oleh Alexander menjadi How! agar sesuai dengan lidah pembaca sasarannya. Melihat teman-teman di dunia maya menggunakan Howgh! saat menanggapi kabar bahwa aku sedang membaca/menerjemahkan Winnetou, aku putuskan untuk memilih Howgh! yang sudah familier bagi pembaca Indonesia.

Hal lain yang mempersulit penerjemahan Winnetou adalah nasib binatang-binatang di dalam cerita ini. Aku sangat sedih ketika kuda dan beruang disakiti oleh manusia, padahal binatang-binatang itu tidak akan mengganggu manusia apabila tidak diganggu lebih dulu. Aku juga sedih saat semakin memahami makna cerita ini: ketidakadilan yang diderita orang-orang pribumi Amerika (“Indian”) yang digusur oleh orang-orang kulit putih.

“Kalau kami menerapkan hukum kami, kami akan membunuh kalian semua. Tapi kami hanya meminta hukum kalian diterapkan dengan setara kepada kami. Tapi apakah itu dilakukan? Tidak! Hukum kalian bermuka dua, dan muka yang kalian hadapkan kepada kami adalah muka yang menguntungkan kalian.”

Visimedia membagi volume pertama Winnetou I terjemahanku menjadi dua buku. Maka Winnetou, Apache, Old Shaterhand: The Wild West Journey yang terbilang tipis ini berisi separuh cerita Winnetou I. Visimedia ingin memperkenalkan Winnetou kepada pembaca remaja dan mengajak pembaca yang sudah mengenal Winnetou untuk bernostalgia.

Winged Cupid Painted Blind

Tiba-tiba aku diminta menerjemahkan beberapa baris dari A Midsummer Night’s Dream karya Shakespeare. Ini adegan ketika Helena heran kenapa Demetrius kesengsem kepada Hermia. Aku belum pernah baca naskah drama ini, tapi pernah baca ceritanya di Topeng Kaca =)). Jadi, kucoba saja ^^

Love looks not with the eyes, but with the mind,
And therefore is winged Cupid painted blind.
Nor hath love’s mind of any judgement taste;
Wings and no eyes figure unheedy haste.
And therefore is love said to be a child,
Because in choice he is so oft beguiled.

Cinta tidak melihat dengan mata, namun dengan kepala,
Demikianlah Cupid bersayap dilukis buta matanya.
Tidak jua cinta risaukan timbangan segala selera;
Bersayap dan buta menjadikan gegabah dan tidak peka.
Demikianlah cinta dikatakan menyerupai bocah,
Karena di kala memilih cinta acap kali lengah.

Topeng Kaca 13 (Elex Media)

Topeng Kaca 13 (Elex Media)

Pengalaman Menerjemahkan Mr. Justice Raffles

Terjemahan terbaruku baru saja diterbitkan oleh Visimedia Pustaka. Keistimewaannya adalah buku kali ini fiksi klasik, terbit pertama kali pada tahun 1909. Ini bukan novel klasik pertama yang aku terjemahkan, tapi memang ini pertama kali aku menerjemahkan novel klasik langsung dari bahasa aslinya. Sebelumnya, aku pernah menerjemahkan novel klasik dari terjemahan bahasa Inggrisnya, sedangkan bahasa aslinya adalah Jerman.

Mr. Justice Raffles karya Ernest William Hornung, Visimedia Pustaka, April 2013

Mr. Justice Raffles karya Ernest William Hornung, Visimedia Pustaka, April 2013

Mr. Justice Raffles adalah satu-satunya novel tentang si pencuri ulung, A.J. Raffles. Tidak berarti ini satu-satunya kisah tentang Raffles yang tampan dan berbadan atletis (sehari-hari dia menjadi pemain kriket amatir). Banyak cerpen mendului novel ini menjadi beberapa kumpulan cerpen. Eh, tapi di sini aku tidak bermaksud membahas tentang novelnya, tetapi menceritakan pengalamanku saat menerjemahkannya.

Continue reading

Terjemahan Bab 1 Clockwork Princess (Adegan 1)

Sebenarnya penerjemahan Clockwork Princess belum dimulai, tapi saya juga rindu menerjemahkan seri The Infernal Devices. Berhubung bab pertamanya sudah diedarkan oleh Simon & Schuster dan sudah diizinkan oleh Ufuk Fiction, saya cicil terjemahkan saja. Teks asli diperoleh dari web TMIndo dan sudah diperiksa ke laman resmi dari Simon & Schuster. Karena masih mencicil, syair pembukanya belum diterjemahkan dan terjemahan ini pun masih akan diperiksa lagi.

The Infernal Devices adalah trilogi karya Cassandra Clare yang merupakan prekuel bagi seri The Mortal Instruments (film hasil adaptasi buku pertamanya, City of Bones, akan dirilis Agustus tahun ini). Clockwork Princess adalah buku ketiga yang menutup Clockwork Angel dan Clockwork Prince. Edisi bahasa Indonesia Clockwork Angel dan Clockwork Prince sudah terbit dan bisa dipesan lewat Ufuk Fiction.

Clockwork Princess (The Infernal Devices, Buku Tiga)

Clockwork Princess (The Infernal Devices, Buku Tiga)

Bab 1

“Desember adalah waktu yang tak terduga untuk menikah,” kata si penjahit, berbicara selagi mulutnya penuh peniti dengan mudah karena sudah terlatih bertahun-tahun. “Seperti kata orang, ‘Saat salju Desember turun dengan lebat, menikahlah, maka cintamu sejati senantiasa.’” Ia memasang peniti terakhir pada gaun dan mundur. “Nah. Bagaimana menurutmu? Gaun ini dibuat berdasarkan salah satu rancangan gaun Charles Frederick Worth sendiri.”

Continue reading

Arsip Tagar #Terjemahan 21 Februari – 1 Maret 2013

hogshead – tong bir
pannier – rok kurung
to cut and run – kabur
motes – partikel debu
mischievous – badung
lay to heart – meresapi
blue-bottle fly – lalat biru
as such – dengan demikian
indescribably – tak terperi
Venetian blinds – tirai sirip

1 dram – setengah sendok teh
far gone – teler/mabuk/pening
valiantly – dengan gagah berani
in staccato – dengan patah-patah
down-stream – searah dengan arus
as well it might – sebaiknya begitu
in the sense of – dalam pengertian
safe and sound – sehat dan selamat
keep one’s powder dry – bersiap siaga
to push off – berangkat/berjalan pergi
just so you know – supaya kau tahu saja

as hard as nails – (orang yang) dingin/kaku
so far as that goes – mengenai hal tersebut
to do someone in – membunuh seseorang
can’t help it – tidak ada yang bisa dilakukan
with eyes open – dengan sadar sepenuhnya
your precious friend – teman kesayanganmu
common, low detectives – detektif kelas teri
one’s elders and betters – orang yang lebih tua
from every point of view – dari sudut mana pun
pass with flying colors – sangat mudah/berhasil
that’s all there is to it – itu saja/sesederhana itu
to some purpose – untuk alasan/tujuan tertentu
(to do something) for two pins – untuk hal sepele

as far as we are concerned – dari sudut pandang kita
laughing on the wrong side of your mouth – menangis
don’t give yourself away – jangan membuka rahasiamu
in one’s glory – dalam keadaan sangat senang/berhasil
there’s nothing (else) for it – tidak ada jalan/pilihan lain
moving heaven and hell – memindahkan gunung dan laut
live beyond your means – hidup besar pasak daripada tiang
at all events/in any event/in any case – apa pun yang terjadi
note of hand (= promissory note) – surat sanggup bayar (utang)
shake the dust off one’s feet – mengebaskan debu dari tapak kaki
inspite of oneself – walaupun tidak menginginkannya/menyukainya
by hook or crook – dengan cara apa pun (dengan jalan halal maupun haram)
give up something as though it were a bad job – menyerah karena merasa sia-sia

Terjemahan Prolog Clockwork Princess

Lagi-lagi sembari menunggu Clockwork Princess (buku ketiga sekaligus pamungkas seri The Infernal Devices karya Cassandra Clare), saya terjemahkan prolognya (separuh dulu, separuh lagi menyusul).  Teks sumber diperoleh dari website @TMIndo. Prolog ini sudah diedarkan sebagai bahan promosi oleh penerbit aslinya. Edisi terjemahan Indonesia akan diterbitkan oleh Ufuk Fiction (lini fiksi Ufuk Publishing House).

Clockwork Princess (The Infernal Devices, Buku Tiga)

Clockwork Princess (The Infernal Devices, Buku Tiga)

York 1847

 

“Aku takut,” kata gadis kecil yang duduk di ranjang. “Kakek, temani aku saja ya?”

Aloysius Starkweather berdeham dengan tidak sabar saat menarik kursinya mendekat ke samping ranjang dan duduk. Bunyi tidak sabar tadi hanya separuh sungguhan. Dia senang bahwa cucunya sangat memercayainya, bahwa sering kali hanya dia yang bisa menenangkan sang cucu. Walaupun rapuh, gadis kecil itu tidak pernah keberatan dengan sikap Aloysius yang galak.

“Kau tidak perlu takut apa-apa, Adele,” kata pria itu. “Nanti kau tahu.”

Gadis kecil itu menatap Aloysius dengan matanya yang besar. Biasanya upacara pemasangan rune pertama diadakan di salah satu tempat yang lebih besar di Institut York, tapi karena Adele kurang berani dan kurang sehat, telah disepakati bahwa upacara itu bisa dilakukan di kamarnya yang aman. Gadis kecil itu duduk di tepi ranjang, punggungnya sangat tegak. Gaun upacaranya merah, dengan pita merah menahan rambut pirangnya yang halus. Matanya besar pada wajahnya yang kurus, kedua tangannya ceking. Apa pun tentang dirinya serapuh sebuah cangkir porselen.

“Saudara Hening,” katanya. “Mereka akan melakukan apa kepadaku?”

“Kemarikan tanganmu,” kata Aloysius, lalu Adele mengulurkan lengan tangannya dengan percaya.  Aloysius membalik tangan itu, melihat pembuluh darah yang membuat jalur biru pucat di bawah kulit. “Mereka akan menggunakan stela mereka—kau tahu stela apa—untuk menggambar Tanda pada kulitmu. Biasanya dimulai dengan rune Waskita, yang kau sudah tahu dari pelajaranmu, tapi khusus untukmu mereka akan mulai dengan dengan Kekuatan.”

Continue reading

Arsip Tagar Twitter #Terjemahan 14-20 Februari 2013

Rather! – Tentu!
mark you! – camkan itu!
to do time – dipenjara
witching hour – tengah malam
backwater – sungai/kali tenang
midsummer – tengah musim (panas)
worth its weight in gold – sangat berharga
to spin a good yarn – bercerita dengan baik
to pounce on/upon – menyergap/membekuk
I take it upon me to… – aku memutuskan untuk…
do things by halves – bekerja setengah-setengah
red tape – prosedur/birokrasi yang berbelit-belit
I beg to differ – aku punya pendapat yang berbeda
thin air – tidak ditemukan di mana pun (menghilang)
If my memory serves me right – kalau tidak salah ingat
caught in the act/caught red handed – tertangkap basah
not a pin the worse of/none the worse – tidak merugi sedikit pun